Ridwan Alimuddin, Lelaki Laut Berbau Kertas

LiterasiToday.Com – Sosoknya selalu lekat dengan kata “laut, buku, perahu pustaka, dan Mandar. Dialah Muhammad Ridwan Alimuddin. Berambut panjang dan suka naik sepeda jauh-jauh. Lahir di Tinambung, 23 Desember 1978. Ridwan dikenal bukan hanya karena kegiatannya sebagai pegiat literasi. Namun aktif meriset dan menulis buku tentang laut dan kebudayaaan maritim di tanah Mandar Sulawesi Barat. Selain itu ia juga masih aktif sebagai ketua organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar. Kerap, Ridwan juga tampil di media-media nasional dan lokal berbicara tentang literasi dan laut. Ia mengisi banyak diskusi dan seminar di Sulbar dan berbagai tempat di Sulawesi Selatan.

Jebolan Jurusan Kelautan dan Perikanan UGM, Yogyakarta (1997 – 2006) ini menulis banyak buku. Sebagian diucapkan, yaitu: • Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2004 • Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2005 Kontributor • Rendra Berpulang 1935 – 2009, Burung Merak Press, 2009 • Sandeq Perahu Tercepat Nusantara, Penerbit Ombak Yogyakarta 2009 • Mandar Nol Kilometer, Penerbit Ombak, 2011 • Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia, Teluk Mandar Kreatif, 2012 • Seri e-book: Ekspedisi Gila Mandar Jepang, 2012 • Ekspedisi Garis Depan Nusantara: Pelayaran Phinisi Cinta di Tenggara Indonesia, 2012 • Kabar dari Laut: Kumpulan Feature Bertema Kelautan, 2012 • Dari Mandar Hingga Prancis: Feature Pilihan Radar Sulbar, 2013.

Pengalamannya di wilayah jurnalistik, antara lain: • Koresponden Radar Sulbar (2006 – 2012). Merintis portal pertama di Sulawesi Barat www.mandarnews.com (2009). Terlibat dalam pendirian Koran Mandar dan www.koranmandar.com (2011 – 2012). Menjadi wartawan (fotografer dan teknologi informasi) di Radar Sulbar (www.radar-sulbar.com) 2012 – sampai sekarang).

Tahun 2019 lalu Ridwan mulai fokus berbicara soal sampah. Bersama komunitas Armada Pustaka Mandar, tak tanggung, Ridwan menerima rumah sampah di depan perpustakaan Nusa Pustaka miliknya.

Ridwan dan kawan-kawan komunitasnya pernah mengadakan festival literasi sampah di Nusa Pustaka. Mereka ditangani dengan pemerintah desa. Dengan begitu, Armada Pustaka Mandar bukan hanya  lapak baca namun juga serius tentang penanggulangan sampah.

Langkah awal yang dia ambil membuat rumah sampah, membuat pelatihan membuat ekokrik, mengisi botol-botol dari sampah plastik seperti pembungkus mie instan Ridwan mengurai singkat, mengolah sampah dengan mesin pemecah plastik yang dicincang. Sampah akan terdiri dari butiran-butiran. Ada alat pemanas yang dipasang sehingga bisa seperti pasta.

Ridwan yakin semua sampah bisa diolah. Dengan cara dia, sampah bisa dibuat menjadi perpustakaan berbahan sampah plastik 100 persen. (*)

 

Penulis: Alfian Nawawi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply