Nirwan Ahmad Arzuka dan Sebuah Awalan Penting dari Atas Kuda

LiterasiToday.Com – Dia seorang sarjana Teknik Nuklir dari Universitas Gajah Mada. Pendiri dan juga oleh para pegiat literasi nusantara kerap disebut sebagai “Presiden” Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) ini, bernama kokoh di jagad maya juga nyata, Nirwan Ahmad Arsuka. Dia juga dikenal sebagai penulis esai kelahiran Barru, Sulawesi Selatan.

Beberapa karyanya diterbitkan secara berkala di Kompas dan Jurnal Cipta . Tulisan-tulisannya berlatar belakang kekayaan budaya tempat lahirnya. Karya-karyanya sudah disetujui nasional dan internasional. Kumpulan gabungan dari manuskrip I La Galigo , Iliad , dan Ramayana . Tidak hanya esai berdasarkan budaya, dia juga dibuat berdasarkan ketertarikannya terhadap sejarah. Beberapa esanya diterbitkan dalam bentuk esai internasional, seperti Jurnal Internasional Studi Asia dan Jurnal Studi Budaya Inter-Asia .

Tahun 2016 lalu, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Persatuan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyatakan masyarakat Indonesia paling rendah kedua di dunia dalam hal minat baca. Nirwan Ahmad Arsuka tidak lengkap hasil survei itu.

Data itu berdasarkan survei minat baca di 61 negara. Hasil, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen atau peringkat kedua dari negara yang disurvei. Nirwan Ahmad Arsuka sudah membuktikan jika buku sangat dibutuhkan anak-anak di luar kota besar, seperti Jakarta.

Pada tanggal 17 Agustus 2014 lalu, Nirwan melakukan pengembaraan bersama dua ekor kuda miliknya. Satu kuda ia tunggangi, sendirian lagi membawa perbekalan. Ia mengembara dari Pamulang, Tangerang Selatan, menuju ke Parompong, Bandung. Dari perjalanan berkuda, dia lebih sering melewati jalan perkampungan dibandingkan jalan raya besar. Dari sana, dia bertemu banyak anak-anak desa, berkomunikasi dan mendengarkan kisah mereka.

Saat Nirwan bertanya pada anak-anak tersebut tentang kondisi desanya, hampir semua anak tak banyak yang tahu. Padahal, seharusnya, anak-anak usia SD sudah bisa menjelaskan tentang keunikan desa mereka. Nirwan mengambil kesimpulan dari kondisi anak-anak tersebut bermuara pada nihilnya buku bacaan.

Dari perjalanan itu, Nirwan punya keinginan untuk membuat perpustakaan bergerak. Ide itu tiba-tiba muncul di benak penikmat karya-karya Jorge Luis Borges tersebut.

Nirwan memiliki pandangan bahwa Pustaka Bergerak mampu merobohkan tembok pertahanan yang ada di perpustakaan yang tidak bergerak. Nirwan bercerita, kompilasi masih aktif di Freedom Institute , sering bertanya pada anak-anak tentang perpustakaan Freedom yang jarang berkunjung. Jawaban yang didapatnya seragam. Banyak anak yang suka dengan perpustakaan yang bagus. Menurutnya, perpustakaan yang bagus dengan koleksi lengkap dibutuhkan. Tapi, Nirwan juga ingin membangun perpustakaan yang tidak ada temboknya,  semua bisa datang untuk membaca.

Pada tahun 2018 bahkan ada sematan “orang gila.” Begitu cibiran masyarakat sekitar pada Nirwan dan relawannya kompilasi gerakan kuda pustakanya dimulai. Niat Nirwan membagikan ilmu pengetahuan lewat buku memang dilihat sebelah mata oleh masyarakat. Masalahnya, dalam masyarakat zaman ini yang mengkuantifikasi segala hal dengan uang, gerakan Nirwan yang cuma-cuma jadi terlihat aneh dan memunculkan kecurigaan di masyarakat.

Banyak kisah menarik lainnya tentang Nirwan Ahmad Arzuka, Mulai pemikiran, tindakan, dan pergerakannya di wilayah literasi. Perjalanannya yang sarat pengalaman penting mengisi ruang berpikir dan awalan bagi para pegiat literasi di tanah air. (*)

Penulis: Alfian Nawawi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply