Tsundoku dan Bibliomania, Apakah Anda Termasuk Pengidap?

LiterasiToday.Com – Apakah Anda suka membaca buku? Doyan membeli buku? Apakah Anda tanpa sadar hanya membeli buku-buku tanpa sempat membacanya? Jika iya, maka Anda termasuk tsundoku.

Dalam bahasa Jepang, tsundoku diartikan secara harfiah sebagai tumpukan buku. Dalam bahasa Jepang sebagai ‘Tsunde Oku’ artinya sendiri, yang merayap pemaknaannya menjadi: membiarkan sesuatu bertumpuk.

Seakan seperti penyakit, tsundoku bisa saja diidap siapa saja tanpa pandang bulu. Biasanya, mereka yang mengalami tsundoku ini adalah kalangan pekerja yang sudah berpenghasilan. Merasa mampu membeli kebutuhannya sendiri, tetapi sayangnya tidak memiliki banyak waktu untuk membacanya. Alhasil, buku-buku itu hanya ditumpuk saja dan memenuhi setiap sudut ruangan.

Selain itu, banyak juga yang menyalahkan diri sendiri karena terlalu banyak membeli buku sama dengan menyumbangkan berkurangnya pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas. Rasa bersalah akhirnya menghantui mereka yang terlanjur menjadi tsundoku.

Sebenarnya, menjadi atau menghindari tsundoku itu adalah pilihan. Hanya saja, kebiasaan seperti ini memang sebaiknya coba diperbaiki. Bagi yang sudah telanjur membeli banyak buku, cobalah berhenti dulu membeli buku baru. Selesaikan bacaan buku yang masih ada di rumah

Selain di Jepang, terdapat istilah yang mirip dengan tsundoku, yaitu bibliomania. Suatu istilah tentang obsesi terhadap buku. Pada kasus yang parah, bibliomania juga dikategorikan sebagai gangguan psikologis obsesif-kompulsif yang melibatkan pengumpulan dan bahkan penimbunan buku ke titik dimana hubungan sosial atau kesehatan rusak.

Meskipun Tsundoku dan Bibliomania memiliki makna yang mirip, terdapat satu hal yang menjadi perbedaan utama.

Para psikolog berpendapat Bibliomania bukan termasuk penyakit mental, tapi merupakan salah satu bentuk Obsessive Compulsive Disorder (OCD) yang sering dikaitkan dengan trauma psikologis dan emosional sebagai penyebab utamanya. Obsesi tampaknya mulai muncul pada tahun-tahun awal tapi dapat berubah menjadi masalah ketika orang tersebut mencapai usia empat puluh dan lebih.

Bibliomania sering dianggap sebagai mekanisme pertahanan yang dikembangkan penderita sebagai respons terhadap trauma atau pelecehan yang dialami di masa lalu. (berbagai sumber)

Editor: Alfian Nawawi

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply