Kasma dan Gema Panggilan Tak Bersuara di Desa Balong

LiterasiToday.Com, Bulukumba – Panggilan  itu bergema dan bergaung namun tanpa suara. Hanya bisa didengarkan oleh para pemilik ruang hati di mana suara panggilan itu berdentum. Orang-orang kerap menyebut  panggilan jenis itu sebagai “pengabdian.” Seperti panggilan yang resonansinya sampai ke hati Kasma. Dia adalah seorang gadis yang mengajar anak-anak secara gratis di Desa Balong, Kecamatan Ujungloe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Gerakan Mengajar Pemuda Daerah Mengabdi atau Gema Pandemi adalah sebuah proyek kerja pengabdian kaum muda, di tengah bencana Covid-19. Bertagline “Pendidikan Nol Rupiah” gerakan ini lahir dari rasa keprihatinan dan  keresahan. Sehingga Kasma yakin bahwa dirinya termasuk orang yang merasa terpanggil agar turut berkeringat bekerja sama atas nama manusia di Bumi Panritalopi.

Gema Pandemi bergerak menyentuh sektor pendidikan yang juga terkena efek bencana dari covid-19, selain sektor kesehatan dan ekonomi. Kehadirannya diharapkan mampu meringankan beban pikiran, regulasi dan kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Bagi Kasma, kondisi ini menjadi tanggung jawab bersama.

“Semua elemen masyarakat bisa mengambil langkah melibatkan diri dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing.” Ujar Kasma.

Dalam kegiatan mengajar, yang paling diutamakan oleh Kasma sebagai mentor dalam menghadapi anak-anak itu adalah berupaya menemukan bakat dan minat mereka terlebih dahulu.

“Yang dibutuhkan anak-anak itu di masa depan bukan lagi hanya sekadar pintar tapi anak yang punya skill. Saya pun membiasakan mereka untuk disiplin waktu. Agar sejak dini mereka punya manajement waktu yang baik. Bisa menempatkan kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain. Metode belajarnya saya ubah setiap hari agar adik-adik tidak merasa bosan belajar. Yang paling sulit dalam mengajar anak kecil itu adalah menumbuhkan kemauannya atau mood-nya. Jika mereka di awal sudah senang mengikuti pelajaran, yang pastinya sampai akhir dia semangat.” Kasma mengurai penjelasannya dengan runut.

Salah satu materi yang menarik adalah Kasma setiap hari meminta anak-anak di kelasnya untuk tampil bergiliran ke depan teman-temannya. Awalnya mungkin hanya memperkenalkan diri. Setelah itu menceritakan pengalaman dirinya saat bangun tidur hingga tidur kembali di malam hari.

“Konsepnya sederhana, minta anak-anak untuk melakukan itu berkali-kali bukan untuk melatih dia agar bisa bicara di depan teman-temannya tapi melatih mereka untuk tampil di depan umum dan tidak malu-malu lagi. Karena jika mereka sudah terbiasa akhirnya nanti akan bisa.” Tuturnya.(*)

 

Editor: Alfian Nawawi

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply