Anak-Anak Bulukumba Ini Baca Puisi Sapardi Djoko Damono di Sawah

LiterasiToday – Puisi selalu bersetubuh dengan alam. Di  tengah alam pun terdapat musikalitas yang puisi. Ada sekawanan burung berkicau di sore hari. Ada bunyi gemericik air dari sungai yang mengalir. Lalu ada tiga gadis kecil membaca puisi. Mereka  berada di sebuah kawasan persawahan.

 

 

Mengagumkan. Adik-adik “Kelas Non-Covid” yang terdiri dari Rafika, Nur Azisah, dan Syifa Rabianti membacakan puisi karya Sapardi Djoko Damono. Sejauh ini mereka nampak berhasil dalam upaya mencapai totalitas penghayatan.

“Mengenalkan puisi pada adik-adik ialah mengenalkan bahasa jiwa. Puisi adalah bahasa jiwa, yang hanya dituturkan oleh orang yang punya jiwa dan dipahami juga oleh orang yang punya jiwa.” Kata Sulhiyah.

Sulhiyah adalah seorang mentor Kelas Belajar Gratis “Pendidikan Nol Rupiah” Gerakan Mengajar Pemuda Daerah Mengabdi (Gema Pandemi) Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Hari yang sama dengan hari kematian sastrawan besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono, hari Ahad sore (19/7/2020) “Kelas Non-Covid” Desa Barugae, Sektor Kecamatan Bulukumpa melantangkan suara membacakan puisi “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono.

Langit sore masih membiru.Hamparan sawah dan latar pepohonan nampak menghijau. Di atas pematang sawah bersama puisi, Rafika, Nur Azisah, dan Syifa Rabianti pun menderu.

“Sebagai mentor saya berharap dengan tumbuhnya Kelas Puisi ini, saya berupaya menanamkan kenikmatan berselancar di dunia sastra kepada adik-adik Desa Barugae.” Pungkas Sulhiyah.(*)

Editor: Alfian Nawawi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply